Penegasan Tasawuf Tentang Sikap Zuhud dan Qanaah

Sejak usia delapan tahun As-Sya’rani tidak pernah meninggalkan salat secara sengaja. Sejak kecil pula ia terbiasa mengkhatamkan Alquran dalam sekali salat

SALAMIBU—Di antara beberapa ajaran tasawuf, tampaknya zuhud dan qana’ah (menerima apa adanya) adalah yang paling pokok atau sentral. Dua sikap tersebut seolah merupakan fardhu ain alias wajib dimiliki seorang salik atau pejalan alias sang pelaku ajaran tasawuf.

Saking pokoknya kedua ajaran tersebut—zuhud dan qana’ah, para salik yang tak memiliki dua ‘laku’ mulia tersebut sukar disebut seorang pelaku tasawuf alias pejalan sufi. Karena dua sikap tersebut melekat dalam diri para pelaku tasawuf, sangat wajar bila mayoritas ahli tasawuf adalah fakir miskin yang hidup apa adanya. Memang ada beberapa sufi yang berkecukupan, seperti Sofyan Tsauri, Ibnu Arabi, ja’far Ash-Sadiq dsb, tetapi sekali pun berkecukupan—bahkan berkelebihan, kedua sikap itu, zuhud dan qana’ah, melekat dalam perilaku mereka. Mereka biasanya meneladani pernyataan sahabat Ali bin Abi Thalib, yang berkata bahwa zuhud itu tidaklah identic dengan kemiskinan, melainkan sikap tidak diperbudak dunia.  

Yang membedakan ulama sufi dengan fakir miskin lain adalah sikap rela dengan keadaan. Hidup miskin tidak membuat mereka meminta-minta, tamak, atau serakah.

Di bawah ini contoh kecil tiga ulama sufi yang hidup dalam kesulitan duniawi. Contoh kecil, karena sebagaimana dituliskan di atas, bahwa mayoritas para ulama sufi memang menikmati kemiskinan.  Ketiga ulama berikut hidup di zaman yang berbeda.

Ma’ruf Al-Karkhi

Ma’ruf Al-Karkhi bernama lengkap Abu Mahfuzh Ma’ruf bin Fairuzan. Dalam biografi (manakib) Ma’ruf al-Karkhi yang ditulis oleh Ibnu Qayyim al-Jauzi dikatakan bahwa beliau berasal dari Karkhjadan, Irak. Itulah etimologi  atau lebih tepatnya ‘toponimi’ datangnya nama Al-Karkhi.

Kedua orangtuanya beragama Nasrani. Saat kecil dia dititipkan kepada seorang guru dan dipaksa mengatakan bahwa Tuhan ada tiga, dia menolak. Setelah beberapa saat, ia dan orangtuanya masuk Islam di tangan Ali bin Musa Al-Ridha.

Meskipun beliau dikenal sebagai seorang sufi yang sibuk beribadah, Ibnu Qayyim mencatat beliau juga sering sekali menghadiri majelis hadis. Bahkan Ibnu Qayyim merekam ada tujuh hadis yang diriwayatkan oleh Ma’ruf.

Mengenai kehidupannya yang serba susah, Ibnu Qayyim pernah menukil cerita berikut:

Suatu hari Ma’ruf datang ke penjual sayur dan berkata bahwa ia ingin sebuah makanan bernama bashaliyyah. Penjual sayur berkata, “Bashaliyyah tidak dijual di toko sayuran, wahai Syekh Agung. Bashaliyyah adalah makanan dari daging, susu, ubi, dan bawang. Kami tidak menjualnya.”

Ma’ruf lalu mengeluarkan beberapa uang dan berkata, “Kalau begitu tolong buatkan. Aku tunggu di masjid. Karena aku sama sekali tidak tahu dan tidak pernah makan bashaliyyah.” Padahal di masa itu makanan tersebut adalah makanan standar masyarakat.

Ma’ruf juga dikenal sebagai sufi yang selalu waspada dengan kehidupan. Dia selalu takut dengan angan-angan kehidupan yang berlebih (thulul amal). Dalam “Hilyatul Awliya” Ibnu Qayyim menulis, suatu ketika Ma’ruf pernah buang air kecil di jamban yang ada di tepian Sungai Tigris. Namun setelah hajatnya selesai ia justru bertayamum. Salah seorang kawannya bertanya kenapa dia tidak istinjak dengan air padahal sungainya sangat dekat? Beliau menjawab, “Siapa yang menjamin aku masih hidup hingga aku sampai ke sungai itu?”

Imam Al-Nawawi

Harap dibedakan dengan Imam Nawawi al-Bantani. Imam Nawawi adalah ulama sufi yang hidup dalam kesempitan rizki. Namun demikian, sebagaimana mestinya seorang sufi, beliau selalu sabar menghadapinya. Beliau bernama lengkap Yahya bin Syarof. Beliau biasa dijuluki (alam kuniah) Abu Zakariyya (ayahnya Zakariyya) meskipun beliau sendiri tidak pernah menikah hingga meninggal.

Julukan itu didapatnya karena orang Arab memang biasa menjuluki seorang bernama Yahya dengan Abu Zakariyya, Umar dengan Abu Hafsh, atau Yusuf dengan Abu Ya’qub. Beliau lahir di Kota Nawa dan meninggal di Damaskus. Sayang, makam beliau beberapa tahun lalu dibom oleh orang-orang sinting yang bergabung dalam ISIS.

Ayahnya adalah pedagang sederhana dan an-Nawawi terbiasa membantu menjaga toko. Ayahnya berkata bahwa ketika berangkat haji bersama an-Nawawi, an-Nawawi terkena sakit panas hingga Hari Arafah. Namun demikian, an-Nawawi tidak pernah mengeluh sekali pun.

Pada usia remaja beliau datang ke kota Damaskus. Setelah tinggal di Jami’ Umawi untuk beberapa saat, beliau tinggal di Madrasah Rawahiyah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Aththar dalam kitabnya tentang biografi an-Nawawi, an-Nawawi tidak pernah membaringkan badannya selama dua tahun ketika baru sampai di sana.

Ibnu Aththar menulis bahwa an-Nawawi selalu berpuasa hingga akhir hayatnya. Beliau hanya sahur dengan segelas air putih, berbuka dengan tiga biji kurma, dan minum air segelas lagi saat tengah malam. Beliau hanya makan agak banyak saat ayahnya datang menjenguk beliau.

An-Nawawi meninggal di Madrasah Asyrafiyah saat berusia 44 tahun di pangkuan ayahnya karena sakit yang sudah lama diidapnya.

Asy-Sya’rani

Abdul Wahhab Asy-Sya’rani adalah seorang sufi luar biasa. Beliau adalah keturunan Sayyidina Ali dari jalur Muhammad bin Al-Hanafiyyah. Sesuai pengakuannya dalam al-Minan (buku otobiografi beliau), beliau sudah hafal Alquran sejak usia tujuh tahun, hafal Jurumiyah, Alfiyah Ibn Malik dan Iraqi, Minhaj, Jam’ul Jawami’, dan banyak kitab-kitab pokok lain. Beliau hafal semuanya di luar kepala.

Beliau juga muthala’ah (membaca dan mengkaji) ratusan jilid kitab fikih semua mazhab, tafsir, tarikh, kamus, tasawuf, syarah hadis, dan lain-lain. Beberapa di antaranya beliau baca berulang-ulang hingga puluhan kali. Bahkan beliau sering menulis komentar di kertas khusus karena beliau tidak sanggup membeli kitab.

Sejak umur delapan tahun beliau tidak pernah meninggalkan salat secara sengaja kecuali sekali, yakni ketika beliau ke Hijaz dan lupa tidak niat jamak ta’khir. Sejak kecil beliau sudah terbiasa mengkhatamkan Alquran dalam sekali salat.

Beliau hidup sederhana di zawiyah-nya. Beliau seringkali diberi hadiah oleh pejabat terkemuka namun beliau tolak. Hidup sederhana ini sudah menjadi pilihan beliau. Bahkan suatu ketika beliau pernah hendak melamar seorang wanita, namun wanita tersebut memberinya syarat-syarat duniawi yang harus beliau penuhi. Akhirnya beliau mundur dan tidak jadi melamarnya karena tidak memiliki cukup harta. Namun akhirnya wanita itu terharu dan akhirnya menikah dengan beliau. [ ]

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.