Gati Wibawaningsih: Dirjen perempuan pembina IKM di Indonesia

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA)Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih. (Dokumentasi Kemenperin)

“Saya berharap industri kecil menengah hebat, industri kuat, Indonesia semakin jaya.” kata Gati.

SALAMIBU – Tidak banyak pejabat tinggi madya (pimti) perempuan yang ada di Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Dari 11 orang eselon I, satu-satunya perempuan adalah Gati Wibawaningsih, S.Teks.,MA  yang biasa dipanggil Ibu Gati. Ia dipercaya menduduki jabatan Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (Dirjen IKMA) pada kementerian tersebut sejak 04 Februari 2019 sampai sekarang.

Gati yang dilahirkan di Bogor pada 25 Juli 1961, tergolong pejabat dinamis. I mengawali karir pada Kementerian Perindustrian ketika menjadi Kepala Sub Direktorat, meski hanya enam bulan. Berikutnya Gati menjadi Direktur Industri Kecil dan Menengah Wilayah II (2010 – 2014). Setelah itu, pada eselon yang sama menjabat Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (2014 – 2015).

Kemudian di eselon sama sebagai Direktur IKM Kimia, Sandang, Aneka, dan Kerajinan (2015 – 2016); yang selanjutnya sebagai Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur menjadi satu-satunya perempuan di jajaran Pimti Madya Kementerian Perindustrian dan dapat menjadi saluran bagi para industri kecil menengah di Indonesia. Mimpi saya IKM hebat, industri kuat, Indonesia Jaya,” kata Gati di awal wawancara dengan SalamIbu beberapa waktu lalu.

“Saya sekolah dari TK, SD, SMP, hingga SMA di Sekolah Bunda Hati Kudus, Grogol. Inginnya saya masuk arsitek dan mendaftar di ITB, tetapi tidak diterima. Hahaha…memang jalannya sudah segitu,” ujarnya

“(Saya) justru diterima di Universitas Trisakti. Namun karena dari TK hingga SMA sekolah di Jakarta, rasanya bosan juga. Pokoknya ingin di luar Jakarta,” imbuh dia.

“Lalu saya memilih kuliah di Institut Teknologi Tekstil, Bandung Jurusan Kimia. Sekarang namanya menjadi Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil dan berubah nama lagi menjadi Politeknik Tekstil.  Dulu sekolah ini mau diambil ITB yang tengah membuka Fakultas Tekstil,” katanya menambahkan.

Menurut Gati, terdapat  banyak sekolah di bawah Kementerian Perindustrian. Ada Akademi Pimpinan Perusahaan, STMI, Sekolah Agro, bahkan Sekolah Kulit juga ada. Kementerian Perindustrian memang punya banyak sekolah.

Gati menyelesaikan dan meraih Sarjana Kimia dari Institut Teknologi Tekstil, Bandung (1985). Lalu melanjutkan pendidikannya di Program Magister Ekonomi dari Vanderbilt University, Amerika Serikat (1993). Selain itu, ia juga memperoleh pendidikan kedinasan, yakni Pendidikan dan Pelatihan PIM Tingkat II Tahun 2011 dan mengikuti Program Pendidikan Lemhanas, Reguler Angkatan 53 Tahun 2015.

Sebagai Dirjen IKMA sampai saat ini, ia membina 4,4 juta IKM di Indonesia dan harus terus meningkatkan daya saing. Industri kecil menengah jadi poin penting pertumbuhan ekonomi karena meliputi komoditi dari ujung kaki sampai ujung rambut. Mulai dari rambut palsu, bulu mata palsu, makanan, aksesoris, fashion, sampai alas kaki.

Gati masih ingat, sebagai direktur ia harus bergelut dan begitu banyak pekerjaan. Pagi bicara tekstil, tengah hari bicara elektronik, sore hari bicara alat angkut, lebih sore lagi diskusi bidang makanan. Lalu saat malam, ngomong minyak atsiri. Jadi dalam waktu sehari ia bisa berbicara antara lima sampai enam  topik. Karena sulit untuk fokus pada pembinaan dengan sebegitu banyak topik, akhirnya kebijakan diubah. Pembagian IKM berdasarkan komoditi, bukan wilayah lagi.

“Saya juga masih ingat ketika menjadi Sekretaris Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi selama dua tahun. Kemudian masuk lagi sebagai Direktur IKM bidang Kimia, Sandang, Aneka, dan Kerajinan. Pembagiannya juga sudah berdasar komoditi,” katanya.

Setelah diberi amanah menjadi dirjen IKMA, ia harus bergelut dengan komoditi yang lebih luas lagi dan tentu saja dengn semakin banyak tantangan, salah satunya adalah masih lemahnya komitmen IKM untuk menerapkan pembinaan yang diberikan.

“Yang berurusan dengan IKM harus perempuan karena perempuan ada sabarnya. Kalau laki-laki kan biasanya tidak sabaran, terlalu pragmatis. Kalau kita kan antara pragmatis dan sabar,” kata Gati memilih untuk bersabar dan senantiasa mengayomi IKM.

Jebolan Magister Ekonomi dari Vanderbilt University, Amerika Serikat ini telah menyiapkan strategi untuk memajukan IKM, apalagi dimasa pandemi ini, antara lain dengan melakukan perluasan cakupan bisnis melalui digitalisasi.

Strategi tersebut menyangkut perubahan perilaku konsumen di mana dalam penggunaan berbagai transaksi lebih mengarah ke digitalisasi yang dianggap lebih efisien dan efektif.

Selain itu, juga harus dilakukan optimalisasi produk yang sudah ada, yaitu dengan melakukan inovasi untuk pengembangan produk hingga membuat terobosan produk baru yang menekankan peningkatan kualitas.

Dengan memegang anggapan bahwa kondisi tidak akan kembali seperti semula, maka pelaku IKM akan terpacu untuk terus berinovasi dan tidak menyerah dengan kondisi yang ada.

Langkah berikutnya adalah melakukan perubahan model bisnis layaknya perusahaan besar, penyesuaian model bisnis ini menekankan pada proses produksi yang efektif dan berkualitas, serta proses pemasaran dengan memanfaatkan teknologi. “Ini bertujuan untuk mencakup pasar yang lebih luas,” katanya menjelaskan.

Kementerian Perindustrian bersama kementerian dan lembaga terkait telah meluncurkan berbagai program untuk menunjang pengembangan IKM di tengah pandemi ini. Diantaranya pelatihan dan seminar online bagi IKM.

Kemudian, melakukan restrukturisasi mesin dan peralatan IKM yang tersebar di sejumlah daerah serta Program Penumbuhan Wirausaha Baru (WUB) pasca pandemi Covid-19.

Yang perlu digalakkan menurut Gati adalah kampanye Program Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang aktif digelar oleh berbagai kementerian dan lembaga terkait. “Alhamdulillah, lewat BBI ini sudah ada 1,6 juta pelaku IKM dan UMKM yang sudah go digital. Kita harapkan jumlah ini terus meningkat ke depan,” katanya.

Sehubungan dengan peringatan Hari Ibu, Gati berpesan kepada semua perempuan bahwa untuk menjadi dirjen itu tidak mudah karena harus bersaing dengan para laki-laki. Tidak mudah bagi perempuan untuk menduduki posisi tertinggi dalam jabatan struktural, karena hampir 70 persen waktu tercurahkan untuk pekerjaan.

“Kita berkompetisi untuk menunjukkan apa keunggulan kita. Selain itu, keseriusan dalam bekerja dengan memperhatikan hal-hal kecil untuk diselesaikan sebaik mungkin, itulah salah satu keunggulan perempuan untuk bisa berada di posisi saat ini. Yang terpenting, apapun tugas kita dalam karir, keluarga tetap menjadi yang utama.” kata Gati menutup pembicaraan. [YP]

Jangan lupa pesan ibu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

SELAMAT HARI IBU TAHUN 2020

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.